|15 Views | Health Insights
Cara Kerja AED Secara Medis
Ketika seseorang mengalami henti jantung mendadak, setiap detik sangat berarti. Respons cepat melalui Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) dapat menjadi bagian penting dari penanganan awal sebelum bantuan medis lanjutan tiba.
Namun, pernahkah Anda bertanya apa yang sebenarnya terjadi ketika AED dinyalakan?
Apakah alat tersebut langsung memberikan kejutan listrik kepada korban?
Jawabannya adalah tidak. AED akan terlebih dahulu melakukan analisis terhadap irama jantung sebelum menentukan apakah kejut listrik diperlukan.
1. AED Dinyalakan dan Memberikan Instruksi
Ketika AED dinyalakan, perangkat akan memberikan panduan kepada penolong melalui instruksi suara, visual video, atau kombinasi keduanya.
Instruksi tersebut membantu penolong mengikuti tahapan penggunaan AED, mulai dari pemasangan electrode pad hingga proses analisis dan pemberian kejut apabila diperlukan.
Dalam kondisi darurat, panduan yang jelas dapat membantu penolong menjalankan prosedur secara lebih terarah.
2. Electrode Pad Dipasang pada Dada Korban
Setelah AED dinyalakan, electrode pad ditempelkan pada dada korban sesuai posisi yang ditunjukkan pada pad atau perangkat.
Pad ini berfungsi menghubungkan tubuh korban dengan AED sekaligus memungkinkan perangkat membaca aktivitas listrik jantung.
Sebelum pemasangan, pastikan dada korban terbuka dan pad dapat menempel dengan baik.
3. AED Menganalisis Irama Jantung
Setelah pad terpasang, AED akan melakukan analisis terhadap aktivitas listrik jantung.
AED tidak memberikan shock secara sembarangan. Perangkat akan menganalisis irama jantung untuk menentukan apakah terdapat kondisi yang dapat ditangani dengan defibrilasi, seperti ventricular fibrillation (VF) atau pulseless ventricular tachycardia (pVT).
Selama proses analisis berlangsung, penolong harus memastikan tidak ada orang yang menyentuh korban agar proses analisis dapat berjalan dengan benar.
4. AED Menentukan Apakah Shock Diperlukan
Berdasarkan hasil analisis, AED akan memberikan instruksi selanjutnya.
Jika ditemukan irama yang memerlukan defibrilasi, perangkat akan memberikan instruksi untuk melakukan shock sesuai prosedur.
Sebaliknya, jika shock tidak diperlukan, AED tidak akan memberikan kejut listrik dan penolong akan diarahkan untuk melanjutkan CPR sesuai instruksi perangkat.
Artinya, AED bukan sekadar alat yang memberikan kejutan listrik. Perangkat ini memiliki sistem analisis yang membantu menentukan apakah defibrilasi diperlukan.
5. Setelah Shock, CPR Dilanjutkan
Penggunaan AED tidak menggantikan CPR.
Setelah shock diberikan, atau ketika AED menyatakan bahwa shock tidak diperlukan, penolong perlu mengikuti instruksi perangkat untuk melanjutkan CPR.
CPR membantu mempertahankan sirkulasi darah ke organ-organ vital hingga sirkulasi spontan kembali atau bantuan medis lanjutan tiba.
Karena itu, dalam penanganan henti jantung, CPR dan AED merupakan bagian yang saling melengkapi dalam respons kegawatdaruratan.
Mengapa Kesiapan AED Penting?
AED sebaiknya tidak hanya tersedia, tetapi juga mudah ditemukan dan siap digunakan ketika kondisi darurat terjadi.
Penempatan AED dapat dipertimbangkan pada berbagai lokasi dengan aktivitas masyarakat yang tinggi, seperti perkantoran, pusat kebugaran, hotel, sekolah, fasilitas olahraga, pusat perbelanjaan, maupun area publik lainnya.
Namun, keberadaan AED sebaiknya diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia. Pelatihan CPR dan AED membantu meningkatkan pemahaman mengenai respons awal ketika seseorang mengalami henti jantung mendadak.
AED Vivest untuk Mendukung Kesiapsiagaan
Dalam mendukung kebutuhan kesiapsiagaan tersebut, AMPM Healthcare Indonesia menghadirkan Vivest PowerBeat X1 dan PowerBeat X3 sebagai pilihan AED untuk berbagai kebutuhan fasilitas.
Vivest PowerBeat X1 dan X3 dirancang untuk membantu proses penggunaan AED secara sistematis melalui panduan perangkat selama proses pertolongan.
Sementara itu, PowerBeat X3 memiliki rating IP55, yang memberikan perlindungan terhadap debu dan air sesuai dengan klasifikasi tersebut. Karakteristik ini dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan AED untuk lingkungan dengan aktivitas tinggi, seperti fasilitas olahraga, gym, area publik, maupun lingkungan kerja.
Pemilihan AED tentunya perlu disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas, lingkungan penggunaan, sistem kesiapsiagaan, serta pelatihan bagi orang-orang yang akan menggunakannya.
Karena memiliki AED bukan hanya tentang menyediakan sebuah perangkat, tetapi tentang membangun kesiapan untuk memberikan respons ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
AMPM Healthcare Indonesia siap mendukung kebutuhan AED Vivest PowerBeat X1 dan X3 sekaligus kebutuhan edukasi dan pelatihan CPR-AED untuk membantu membangun lingkungan yang lebih siap menghadapi kondisi henti jantung mendadak.
Ingin meningkatkan kesiapsiagaan CPR & AED di lingkungan Anda? Hubungi kami untuk informasi mengenai program pelatihan CPR dan penggunaan AED.